Kegunaan Blockchain: Kegiatan Amal

Bagikan
Copied to clipboard!
Kegunaan Blockchain: Kegiatan Amal

Organisasi sosial seringkali dihadapi dengan sebuah rintangan menuju keberhasilan dikarenakan kurangnya transparansi, masalah akuntabilitas, dan keterbatasan dengan cara menerima donasi. Filantropi Crypto (atau penggunaan teknologi blockchain untuk memfasilitasi kontribusi amal) menawarkan sebuah solusi alternatif, dengan transaksi terdesentralisasi dan langsung yang dapat membantu organisasi tersebut menerima donasi untuk lebih efisien dalam menggalang dana.


Dasar Blockchain

Pembuatan sistem blockchain membawa banyak keuntungan pada banyak industri, yang terjadi karena adanya peningkatan transparansi dan keamanan data. Walaupun konsep ini sudah ada dari sebelum pembuatan Bitcoin, hanya belakangan ini potensi blockchain mulai dikenal dalam skala yang lebih besar.

Blockchain adalah sebuah komponen dasar pada hampir semua jaringan ekonomi mata uang digital. Buku kas digital di belakang Bitcoin dibuat oleh seseorang yang dikenal sebagai Satoshi Nakamoto, sejak saat itu teknologi ini sudah diaplikasikan ke berbagai skenario dan sudah membuktikan dirinya menjadi sangat berguna tidak hanya sebagai mata uang digital akan tetapi untuk banyak jenis komunikasi digital dan pembagian data lainnya.

Blockchain Bitcoin beroperasi sebagai sebuah teknologi buku kas terdistribusi (Distributed Ledger Technology) [DLT], yang diamankan dengan cryptography dan dijaga oleh sebuah jaringan komputer (node) raksasa. Rangka kerja seperti ini mengizinkan untuk transaksi luar batas peer-to-peer (P2P) dalam sebuah lingkungan tanpa asas percaya. Tanpa asas percaya berarti pengguna tidak dibutuhkan untuk mempercayai satu sama lainnya dikarenakan semua node peserta tidak diharuskan untuk mengikuti sebuah set aturan (yang dijabarkan oleh protokol Bitcoin). 

Buku kas Bitcoin yang digunakan untuk transaksi seperti ini tidak terdapat pada sebuah pusat data atau server. Sebagai gantinya, blockchain tersebar dan terduplikasi antar node komputer yang tersebar di seluruh dunia. Ini berarti juga bahwa setiap transaksi yang terkonfirmasi atau data yang diubah, setiap peserta harus memperbaharui versi blockchain mereka, seturut dengan apa yang terjadi (mereka harus mencapai konsensus untuk setiap perubahan).

Seperti apa yang sudah dijabarkan, blockchain sering digunakan sebagai buku kas terdistribusi, dan keuntungan yang disediakan oleh teknologi untuk ini adalah kemampuan untuk melayani kebutuhan organisasi filantropi dan yayasan sosial dan Binance Blockchain Charity Foundation (BCF) adalah salah satu contohnya.


Donasi Mata Uang Digital

Masih ada jalan yang panjang sampai mata uang digital mendapatkan adopsi global, dan perjalanannya akan menjadi lebih panjang dalam hal amal. Sekarang ini, organisasi sosial yang mulai memeluk mata uang digital masih tergolong kecil, akan tetapi terus bertambah. 

Penyumbang yang ingin menggunakan mata uang digital untuk melakukan kontribusi hanya memiliki opsi untuk mendonasikan ke beberapa organisasi yang menerima mata uang digital atau membuat donasi yang cukup besar untuk mengajak organisasi pilihan mereka untuk menerima mata uang digital.

Sebelum sebuah organisasi amal mulai menerima donasi dalam bentuk mata uang digital, pertama-tama harus ada proses yang dikerjakan untuk mengatur dan mendistribusikan dana tersebut dalam cara yang transparan dan efisien. Mengerti dasar mata uang digital dan teknologi blockchain - dan bagaimana donasi dapat dikonversikan ke dalam mata uang fiat - sangatlah penting untuk implementasi strategi yang efektif.


Potensi keuntungan dari filantropi crypto

Filantropi crypto menjanjikan  beberapa keuntungan untuk organisasi sosial dan pendonasi, yang termasuk:

  • Transparansi Total: Setiap transaksi mata uang digital adalah unik, yang juga berarti mereka dapat secara mudah dilacak dalam blockchain. Tahapan transparansi dan akuntabilitas publik yang lebih tunggu dapat memberikan ketenangan dan akan mendorong mereka untuk memberi sembari meningkatkan reputasi dan integritas.

  • Global dan terdesentralisasi: Banyak jaringan blockchain memberikan tahapan desentralisasi yang tinggi, yang dapat berarti bahwa mereka tidak bergantung kepada institusi dan lembaga pemerintahan sentral. Maka dari itu, dana dapat dipindahkan secara langsung dari donatur ke organisasi kemanusiaan dan sifat desentralisasi blockchain membuat ini sangat unik dan cocok untuk transaksi internasional.

  • Persetujuan Digital: Blockchain memberikan kemudahan untuk membagikan dan menyimpan data digital, dan dapat digunakan untuk memastikan bahwa dokumen atau kontrak penting tidak dapat dimodifikasi tanpa persetujuan seluruh peserta.

  • Pengurangan Biaya: Teknologi blockchain memiliki potensi untuk menyederhanakan bagaimana organisasi sosial diatur, proses otomatis, dan mengurangi biaya secara keseluruhan dengan memotong orang tengah.

  • Pengurangan Pajak: Dengan mempergunakan donatur asal Amerika Serikat sebagai contoh, jika sebuah kontribusi dibuat dengan Bitcoin, organisasi sosial akan mendapatkan nilai penuh yang didonasikan (tanpa pajak pertambahan nilai). Terlebih lagi, donatur dapat mengklaim pemotongan pajak dari lembaga pemerintah.


Pertimbangan dan limitasi

Diluar dari potensi keuntungan, ada beberapa pertimbangan yang harus dipertimbangkan pada saat mengadopsi filantropi crypto:

  • Fluktuasi: diluar stablecoin, banyak mata uang digital diperdagangkan dalam sebuah pasar yang berfluktuasi tinggi, dan sering mengalami perbedaan harga yang tinggi.

  • Keamanan: jika kunci pribadi yang digunakan untuk mengakses dana donasi hilang, tidak ada cara untuk membukanya. Jika kunci tidak diatur dan diamankan dengan baik, sebuah entitas yang berniat jahat dapat mengakses dompet dan mencuri dana.

  • Kesadaran dan Pengertian Publik: banyak orang menganggap blockchain sangat sulit untuk dijelaskan dan banyak potensi donatur tidak cukup mengerti akan dasar mata uang digital untuk dapat mempercayai sistem ini atau melakukan donasi.


Contoh dunia nyata

Filantropi crypto sudah digunakan oleh beberapa organisasi kemanusiaan kelas tinggi pada beberapa tahun terakhir. Sebagai contoh, pada tahun 2017, organisasi filantropi bernama Fidelity Charitable menerima setara dengan $69 juta dalam donasi berbentuk mata uang digital. Pada tahun yang sama, sebuah donatur tidak bernama, dan dikenal sebagai Pine mendistribusikan donasi sekitar $55 juta dalam bentuk Bitcoin untuk banyak organisasi melalui Pineapple Fund.

Seperti yang sebelumnya dijelaskan, Blockchain Charity Foundation (BCF) adalah sebuah contoh baik untuk filantropi crypto. BCF adalah sebuah organisasi kemanusiaan yang bertujuan untuk mentransformasi filantropi melalui penggunaan serambi sosial terdesentralisasi.


Konklusi

Filantropi crypto merupakan sebuah cara pemberian, penerimaan, dan pendistribusian donasi yang baru. Akan tetapi, dengan berkembangnya teknologi blockchain, donatur dan organisasi pada suatu hari akan dapat memeluk hal ini sebagai sebuah cara yang menarik untuk membantu sesama. Apabila publik berlanjut untuk memeluk cara pemberian seperti ini, akan semakin banyak organisasi kemanusiaan akan mulai menerima mata uang digital. 

Loading