Penjelasan mengenai Alokasi dan Diversifikasi Aset

Bagikan
Copied to clipboard!
Penjelasan mengenai Alokasi dan Diversifikasi Aset

Daftar isi


Pengantar

Ketika berbicara mengenai uang, selalu ada risiko. Setiap investasi dapat menimbulkan kerugian, sementara dengan menyimpan uang tunai saja Anda dapat melihat nilainya lambat laun berkurang dikarenakan oleh inflasi. Walaupun risiko tidak bisa dihilangkan, tetapi dapat disesuaikan agar selaras dengan tujuan-tujuan investasi tertentu.

Alokasi dan diversifikasi aset adalah konsep yang memainkan peran kunci dalam menentukan parameter risiko-risiko ini. Walaupun Anda baru dalam dunia investasi, kemungkinan Anda tidak asing lagi dengan prinsip-prinsip di balik semua ini, karena ini sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu

Artikel ini akan memberikan Anda pandangan mengenai apa dan bagaimana hubungan alokasi dan diversifikasi aset dengan strategi pengelolaan keuangan modern. 

Jika Anda tertarik untuk membaca lebih dalam mengenai topik yang sama, silakan lihat Penjelasan mengenai Risiko Keuangan


Apa yang dimaksud dengan alokasi dan diversifikasi aset?

Istilah alokasi dan diversifikasi aset sering dianggap merupakan hal yang sama. Namun, keduanya memiliki aspek pengelolaan risiko yang sedikit berbeda. 

Alokasi aset dapat digunakan untuk menggambarkan strategi pengelolaan uang yang menguraikan bagaimana modal seharusnya dibagi ke antara kelas-kelas aset dalam sebuah portofolio investasi. Sedangkan diversifikasi dapat menggambarkan alokasi dari modal di dalam kelas-kelas aset tersebut. 

Tujuan utama dari strategi-strategi ini adalah untuk memaksimalkan pendapatan yang diharapkan dan meminimalkan potensi risiko. Biasanya, ini melibatkan penentuan jangka waktu saat melakukan investasi, toleransi risiko, dan kadang-kadang pertimbangan kondisi ekonomi yang lebih luas. 

Singkatnya, ide utama di balik strategi-strategi alokasi dan diversifkasi aset adalah untuk tidak memasukkan semua telur ke dalam satu keranjang. Mengkombinasikan kelas-kelas aset dan aset-aset yang tidak berhubungan satu sama lain adalah cara yang paling efektif untuk membangun portofolio yang seimbang.

Yang membuat kedua strategi ini ampuh dalam mengkombinasikan aset adalah bahwa risiko tidak hanya dibagi di antara kelas-kelas aset yang berbeda, tetapi juga di antara aset-aset di dalam satu kelas. 

Beberapa ahli aset bahkan yakin bahwa penentuan strategi alokasi aset mungkin lebih penting daripada pemilihan jenis investasi itu sendiri. 


Teori Portofolio Modern

Teori Portofolio Modern/Modern Portfolio Theory (MPT) adalah kerangka kerja yang memformalkan prinsip-prinsip ini melalui model matematika. Ini diperkenalkan dalam sebuah makalah yang diterbitkan oleh Harry Markowitz pada tahun 1952, makalah yang kemudian membawa ia menerima Hadiah Nobel di bidang Ekonomi.

Kategori aset-aset besar cenderung bergerak dengan cara berbeda. Kondisi pasar yang membuat kelas aset tertentu berkinerja baik mungkin akan membut kelas aset yang lainnya berkinerja buruk. Asumsi utama adalah bahwa jika satu kelas aset berkinerja buruk, kerugian dapat diseimbangkan dengan kelas aset lain yang berkinerja baik.  

MPT mengasumsikan bahwa dengan menggabungkan aset dari kelas aset yang tidak berhubungan, volatilitas portofolio dapat dikurangi. Ini juga seharusnya meningkatkan kinerja yang disesuaikan dengan risiko, yang berarti portofolio dengan jumlah risiko yang sama akan menghasilkan pendapatan yang lebih baik. Ini juga dapat berarti bahwa jika dua portofolio menawarkan pendapatan yang sama, setiap investor rasional akan lebih memilih portofolio dengan risiko lebih kecil. 

Singkatnya, MPT menyatakan bahwa ini adalah cara yang paling efisien dalam mengkombinasikan aset-aset ke dalam sebuah portofolio yang tidak berhubungan satu sama lain.


Jenis kelas aset dan strategi alokasi

Dalam kerangka kerja alokasi aset, biasanya kelas aset dikategorikan sebagai berikut: 

  • Aset tradisional — saham, obligasi, dan uang tunai. 
  • Aset alternatif — real estate, komoditas, produk derivatif, produk asuransi, ekuitas privat, dan tentu saja aset kripto.

Pada umumnya, terdapat dua jenis utama strategi alokasi aset, keduanya menggunakan asumsi-asumsi yang diuraikan dalam MPT: Alokasi Aset Strategis dan Alokasi Aset Taktis. 

Alokasi Aset Strategis dianggap sebagai pendekatan tradisional yang lebih cocok kepada gaya insvestasi pasif. Portofolio berdasarkan strategi ini akan cenderung diseimbangkan hanya jika alokasi yang diinginkan bergeser berdasarkan perubahan jangka waktu investor atau profil risiko. 

Alokasi Aset Taktis lebih cocok kepada gaya investasi yang lebih aktif. Memungkinkan para investor untuk mengkonsentrasikan protofolio mereka kepada aset-aset yang berkinerja baik di pasar. Jika satu sektor berkinerja baik di pasar, sektor ini dapat terus berkinerja baik untuk jangka waktu yang panjang. Karena sama-sama didasarkan pada prinsip-prinsip yang diuraikan dalam MPT, ini juga memungkinkan untuk sebagian diversifikasi.

Perlu dicatat bahwa aset tidak harus sepenuhnya tidak berkorelasi atau berkorelasi terbalik agar diversifikasi berhasil. Yang dibutuhkan adalah keadaan dimana aset-aset ini tidak sepenuhnya berkorelasi. 


Menerapkan alokasi dan diversifikasi aset ke dalam portofolio

Mari kita melihat prinsip-prinsip ini melalui contoh portofolio. Sebuah portofolio dalam strategi alokasi aset memiliki alokasi berikut di antara kelas-kelas aset yang berbeda:

  • 40% investasi saham
  • 30% obligasi
  • 20% aset kripto
  • 10% uang tunai 

Strategi diversifikasi mungkin menentukan bahwa di antara 20% investasi di aset kripto: 

  • 70% sebaiknya dialokasikan ke Bitcoin
  • 15% kapitalisasi besar
  • 10% kapitalisasi sedang
  • 5% kapitalisasi kecil

Ketika alokasi sudah terbentuk, kinerja portofolio dapat dimonitor dan dikaji secara teratur. Jika alokasi berganti, mungkin saatnya untuk menyeimbangkan — maksudnya membeli dan menjual aset untuk menyesuaikan portofolio agar kembali ke proporsi yang diinginkan. Pada umumnya ini melibatkan penjualan aset yang berkinerja baik dan pembelian aset berkinerja buruk. Pemilihan aset tentu aja sepenuhnya bergantung pada strategi dan tujuan investasi masing-masing orang

Aset kripto adalah salah satu kelas aset yang paling berisiko. Portofolio ini dapat dianggap sangat berisiko, karena ada porsi yang cukup besar dialokasikan ke aset kripto. Investor yang lebih memilih untuk menghindari risiko mungkin akan mengalokasikan lebih banyak portofolio ke, katakanlah, saham – kelas aset yang berisiko jauh lebih rendah. 

Jika Anda ingin membaca laporan penelitian mendalam mengenai manfaat Bitcoin dalam portofolio multi-aset yang beragam, lihat laporan oleh Binance Research berikut ini: Pengelolaan Portofolio Seri #1 - Mengeksplor manfaat diversifikasi dengan Bitcoin.


Diversifikasi di dalam portofolio aset kripto

Walaupun prinsip di balik metode ini secara teori seharusnya berlaku pada portofolio aset kripto, tetapi sebaiknya kita memandangnya dengan sedikit pesimis. Pasar mata uang kripto sangat berkaitan dengan pergerakan harga Bitcoin. Ini menyebabkan diversifikasi adalah hal yang tidak masuk akal – bagaimana mungkin seseorang menyiapkan keranjang untuk aset-aset yang tidak berkorelasi dengan keranjang lain yang isinya adalah aset-aset yang sangat berkorelasi?

Kadang-kadang, altcoins tertentu dapat menunjukkan tingkat korelasi yang menurun dengan Bitcoin, dan para pedagang yang memperhatikan ini dapat mengambil kesempatan. Namun, ini biasanya tidak bertahan secara konsisten, dan tidak berlaku seperti strategi serupa di pasar tradisional.  

Asumsi dapat dibuat begitu pasar matang, pendekatan yang lebih sistematis untuk diversifikasi akan dapat diterapkan dalam portofolio aset kripto. Tetapi pasar masih harus menelusuri jalan panjang agar ini terjadi.


Permasalah dalam alokasi aset

Walaupun ini merupakan tenik yang ampuh, beberapa strategi alokasi aset mungkin tidak cocok diterapkan pada invetor dan portofolio tertentu. 

Membuat rancangan relatif mudah, tetapi kunci strategi alokasi aset yang baik adalah implementasi. Jika investor tidak dapat mengesampingkan bias mereka, efektivitas portofolio mungkin tidak akan berhasil. 

Potensi masalah lain adalah sulitnya memperkirakan toleransi risiko yang akan dihadapi investor. Ketika hasilnya mulai terlihat setelah beberapa lama, investor baru akan menyadari bahwa seharusnya dia mengurangi (atau malah menambah) risiko. 


Penutup

Alokasi dan diversifikasi aset adalah konsep pengelolaan risiko yang fundamental yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. Ini juga merupakan salah satu dari konsep inti di balik strategi pengelolaan portofolio modern. 

Tujuan utama penyusunan strategi alokasi aset adalah memaksimalkan pendapatan yang diharapkan sambil meminimalkan risiko. Mendistribusikan risiko antar kelas aset dapat meningkatkan efisiensi portofolio.

Karena pasar sangat berkorelasi dengan Bitcoin, strategi alokasi aset sebaiknya diterapkan dengan sangat hati-hati terhadap portofolio aset kripto.

Loading